Sunday, February 24, 2008

Menghindari Flu Burung dengan Teknologi

Sejak menjadi wabah yang mematikan, flu burung telah menjelma sebagai mimpi buruk para peternak unggas. Namun ketakutan seperti itu tidak dirasakan Pak Katimin (45), seorang peternak ayam broiler di daerah Makroman, Samarinda, Kalimantan Timur.

Lelaki berwajah lugu dengan penampilan sederhana ini tidak terlalu khawatir akan kesehatan ternaknya. Alasannya, semenjak belajar komputer dan internet, ia jadi bisa mengenali berbagai jenis penyakit unggas serta cara mengobatinya. Dari internet jugalah Katimin mendapat berbagai pengetahuan yang langsung bisa diterapkan dalam usaha ternaknya.

Tak heran bila peternak yang memulai usahanya dengan 300 ekor ayam itu kini telah mampu memasarkan lebih dari 3.000 ekor ayam pedaging dari dua kandang besar yang dimilikinya. Bukan hanya itu, Katimin bahkan mampu menghindari kerugian penjualan berkat informasi harga yang ia peroleh dari internet.

Sebelum berkenalan dengan yang namanya komputer, Katimin sering menghadapi masalah dengan ayam-ayamnya. Ia selalu kebingungan bila ternaknya sakit, lalu mati satu demi satu. Ia tidak mengetahui penyakit apa yang menyerang ayamnya, dan bagaimana mengobatinya.

“Dulu, setiap kali ada ayam yang sakit, saya hanya bisa mencoba-coba mengobati sendiri. Kalau sedang beruntung, obat itu bisa membuat ayam sembuh. Tapi seringkali yang terjadi adalah salah obat,” katanya, mengenang masa awal ia beternak di tahun 2000.
Sekarang, peristiwa seperti itu tidak pernah lagi terjadi. Sejak belajar komputer dan mengenal internet dari Pusat Pembelajaran dan Pelatihan Masyarakat atau Community Training & Learning Center (CTLC), Pak Katimin seolah menjadi dokter bagi ayam-ayamnya. Dari internet, ia mendapat pengetahuan mengenai penyakit-penyakit ayam dan bagaimana mengobatinya.

Berkat internet pula ia bisa memilih obat apa yang tepat dan seberapa banyak takarannya. Hasilnya, peternakannya pun terhindar dari wabah flu burung yang membuat ciut nyali para peternak itu. “Berkat pengetahuan yang saya dapat dari CTLC, saya bisa mengenali jenis-jenis penyakit dan gejalanya,” tutur lelaki keturunan transmigran asal Jawa Tengah yang lahir di Kalimantan itu. “Alhasil pengobatannya tepat, ayam saya sehat, dan kami terhindar dari flu burung,” ujarnya.
Dari 300 Menjadi 3.000 Lebih

Di samping berhasil menghindarkan ternaknya dari penyakit, Katimin memperoleh banyak informasi lain mengenai peternakan unggas. Karena selalu mengikuti perkembangan situasi perunggasan terkini, maka informasi pakan, obat-obatan, bahkan harga jual ayam tak pernah luput dari perhatiannya. Usahanya semakin maju, hingga pada bulan Juli 2006, ia sudah mampu meningkatkan jumlah ayam peliharaannya sampai 3.200 ekor.

Seperti disebut di atas, internet telah membantu Katimin mengetahui kondisi harga pasar daging ayam. Sebagai gambaran, saat ini konsumsi daging ayam di Kalimantan Timur mencapai 60.000 ekor setiap hari. Harga daging menjadi turun bila pasokan berlebih. Dengan biaya pemeliharaan sebesar Rp 13 juta untuk 1.000 ayam, peternak baru mencapai impas atau BEP (break even point) bila bisa menjual daging ayam seharga Rp 8.200 per kg.

Agar mereka bisa menjual dengan harga lebih tinggi, maka harus diusahakan agar ayam dijual saat permintaan tinggi dan pasokan sedikit. Untuk itu peternak butuh informasi kondisi pasar, sehingga bisa mengatur kapan mereka harus membeli anak ayam umur satu hari (DOC atau day old chicken) dan kapan menjualnya. Adapun ayam broiler biasanya dipanen setelah 35 hari, karena pada umur itulah pertumbuhan ayam mencapai puncaknya.

“Dengan mengetahui kondisi pasar, kita bisa memperkirakan kapan harus mulai memelihara ayam,” ujar Pak Katimin. “Kalau tidak begitu, bisa-bisa kita rugi besar karena menjual saat harga turun.”

Berkenalan dengan Teknologi

Adapun perkenalan Katimin dengan teknologi tidak berlangsung dengan mulus. Ketika mulai memelihara ayam, Katimin adalah peternak dengan pengetahuan terbatas. Pergaulannya dengan orang yang mengetahui bidang perunggasan hanya terjadi ketika ia bertandang ke Toko Sapronak PS untuk membeli pakan dan keperluan ayamnya. Tapi dari situlah terbuka jalan bagi Pak Katimin untuk mengenal teknologi.

Adalah Purwoko, pemilik Toko Sapronak, yang menjadi perantara perkenalan Katimin dengan komputer. Purwoko sudah sejak lama menjadi tempat bertanya bila Katimin menghadapi masalah dengan ayamnya. Seringkali Katimin harus menempuh perjalanan selama 30 menit menggunakan sepeda motor untuk bertanya obat apa yang harus diberikan pada ayamnya yang sakit. Bila kebetulan yang empunya toko tidak ada di tempat, maka Katimin harus rela menunggunya.

Sampai kemudian, pada bulan November 2005, Toko Sapronak dipilih sebagai lokasi CTLC atas prakarsa masyarakat perunggasan Kaltim yang dipimpin drh H Sumarsongko. CTLC yang kemudian bernama “Tepi Mahakam” ini adalah hasil kerja sama PT Microsoft Indonesia dengan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB).

Ketika komputer-komputer mulai dipasang di ruangan samping toko, Katimin masih belum tertarik untuk bergabung. Bahkan ketika diajak secara langsung oleh Pak Purwoko, jawabannya adalah: “Belajar komputer? Buat apa? Apa komputer mau dibawa ke kandang?”
Ini adalah jawaban yang sangat wajar, mengingat masyarakat petani pada umumnya masih belum bisa menemukan hubungan antara komputer dengan pekerjaannya. Mereka yang biasa memegang cangkul, tentu merasa janggal ketika harus menggeser-geser mouse. Mereka yang sehari-hari mengurusi ternak tentu merasa aneh bila harus duduk di hadapan layar dan memencet-mencet keyboard.

Tapi karena bujukan yang terus-menerus, Katimin akhirnya bersedia mencobanya. Untuk mengurangi rasa gugup, ia pun mengajak dua rekannya, Budiyono (45) dan Paiman (42) untuk turut serta. Maka jadilah ketiga peternak ayam tersebut belajar komputer tiap Selasa dan Sabtu pukul 14.00 setelah selesai mengurusi ayam-ayam mereka.

Permulaan belajar komputer bagi tiga serangkai ini merupakan pengalaman unik. Pertama kali memegang mouse, tangan-tangan peternak itu amat kaku. Wajahnya tegang, dan peluh menetes dari dahinya. Mereka tidak berani mencengkeram mouse karena takut rusak. Tetapi semangat dan rasa ingin tahu ketiganya segera mengatasi berbagai kesulitan yang ditemui. Kini mereka sudah mampu bekerja menggunakan program MS Word dan MS Excel. Selain itu mereka juga mengenal dunia melalui internet.

Belajar di Tepi Mahakam

Sesuai kurikulumnya, tidak semua yang diajarkan di CTLC adalah internet. Para peserta pendidikan yang hingga kini telah mencapai 30 orang lebih, juga dilatih agar mahir menggunakan MS Word, MS Excel, dan MS Powerpoint.
Ini bukannya tidak berguna. Budiyono dan Paiman sudah membuktikan manfaat dari pelajaran tersebut. Mereka yang juga berprofesi sebagai guru sekolah dasar itu, kini bisa membuat lembaran-lembaran absensi bagi anak-anak didiknya. Sementara ketika bekerja sebagai peternak, keduanya bisa melakukan perencanaan perhitungan bisnis sederhana menggunakan MS Excel. (mb)

Sumber: http://www.bainfokomsumut.go.id/open.php?id=54&db=h5n1

No comments: