Friday, December 14, 2007

Lokasi CTLC Binaan LPPM IPB

CTLC ciawi - SMK Wikrama
SMK Wikrama, Jl.Raya Mangun
Kel. Sindangsari, Bogor Timur
(Depan pool Limas Wangun) Ciawi
16720
Cp: Ir.Itasia Dina, MSi 0251-2422411

CTLC Tepi Mahakam Samarinda
Jl. A. Wahab Syahrani Gg.100x Samarinda
Kalimantan Timur 75124
Cp: Drh. H. Sumarsongko
0541-739873
08125503458
e-mail: pesutmahakam05@gmail.com

CTLC Cihideung Ilir Darmaga
Jl. Raya Cibanteng Agathis II,
RT.02/05 Desa Cihideung Ilir,
Kecamatan Ciampea
Kabupaten Bogor
Awaladunin 0251-629939

CTLC Muara - Binuangen
Base Camp IPB, Desa Cikiruh Wetan
Rt 02/01 Kec. Cikeusik
Kab. Pandeglang Banten
Ir. Entang Iskandar

CTLC Panyingkiran Majalengka
Desa Penyingkiran Kec, Panyingkiran
Majalengka
45459
Syukur Hidayat
CP: ctlc_panyingkiran@hotmail.com

CTLC Jampang Kulon Sukabumi
Kepala Desa Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon,
Kab. Sukabumi
Sukabumi
Derys Sofyandi
cp: odegtea@yahoo.co.id


CTLC Sepatan, Tanggerang
Kantor UPTD Hama dan Penyakit
Jl. Raya Pakuhaji, Desa Pondok Jaya,
Kec, Sepatan. Kab. Tangerang
Ir. Bagus W.D 59373018

Gandeng IPB, Microsoft Dukung Revitalisasi Pertanian Lewat TI

Bogor - Guna mendorong perkembangan pertanian di Indonesia, PT Microsoft Indonesia bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM), sebuah lembaga non profit di bawah naungan IPB (Institut Pertanian Bogor), meluncurkan program TI@Pertanian. Program ini merupakan prakarsa Microsoft untuk mendukung program pemerintah dalam merevitalisasi pertanian melalui pemenuhan kebutuhan akses informasi kepada para petani. Melalui program ini, Microsoft akan mendirikan 7 pusat belajar berbasis masyarakat yang disebut Community Training and Learning Center (CLTC) untuk para petani di daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap informasi. Enam diantaranya di tempatkan di Jawa Barat dan satu di Kalimantan Timur.

"Kebutuhan akan akses informasi sangat tinggi di kalangan petani. Selama ini para petani menghadapi kendala keterbatasan informasi sehingga membatasi potensinya," ungkap Presiden Direktur PT Microsoft Indonesia Tony Chen.

Tony Chen menjelaskan bahwa sejak tahun 2003, Microsoft telah memprakarsai program Unlimited Potential (UP), dimana Microsoft bermitra dengan lembaga swadaya masyarakat untuk mewujudkan sarana belajar jangka panjang dengan mendirikan CTLC bagi berbagai komunitas masyarakat di berbagai sektor di Indonesia, termasuk di sektor pertanian. Temuan di lapangan menunjukkan perkembangan sektor pertanian mengalami kendala keterbatasan informasi.

Keterbatasan tersebut cukup memprihatinkan, mengingat potensi sektor pertanian di Indonesia sangat tinggi. Hasil Sensus Pertanian 2003 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan luas lahan produktif yang dimiliki rumah tangga pertanian terus menunjukkan peningkatan yang signifikan tiap tahunnya. Tercatat pada tahun 2003 luas lahan produktif untuk pertanian sudah mencapai 19,67 juta ha. Sementara itu BPS juga mencatatkan jumlah penduduk produktif untuk sektor pertanian cukup tinggi yaitu mencapai 43% dari jumlah total penduduk produktif di Indonesia (93,72 juta jiwa).

Hal tersebut yang melatarbelakangi komitmen Microsoft untuk lebih memfokuskan diri dalam memberikan akses informasi kepada komunitas petani, melalui program TI@Pertanian yang diluncurkan hari ini (22/9).

Diharapkan pemenuhan kebutuhan akan akses informasi itu menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan petani kepada tengkulak, dapat memperluas pasar, meningkatkan produksi, meningkatkan taraf hidup, dan terus mengembangkan pengetahuannya dengan belajar dari petani di daerah lain.

Kedepannya Microsoft juga akan menggandeng Lembaga non profit lainnya yang membina komunitas petani untuk mendirikan CTLC di daerah yang memiliki keterbatasan terhadap akses informasi. Pada setiap CTLC disediakan fasilitas berupa perangkat teknologi yang dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para petani maupun keluarganya. Para petani dapat mengakses informasi seluas-luasnya, saling bertukar pendapat, berdiskusi dan meningkatkan kapasitas dirinya dalam hal teknologi informasi.

Para petani dapat mengakses informasi melalui internet, membaca perkembangan seputar pertanian di e-library yang telah disediakan yaitu Pustaka Tani (www.pustakatani.org). Selain itu para petani dapat mencontoh kesuksesan petani dari daerah lain atau berbagi pengalaman kepada petani lainnya, berdiskusi masalah pertanian, mempelajari dan menerapkan hasil penelitian yang telah dikembangkan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB), mengetahui musim tanam yang tepat, mendapatkan kontak perusahaan yang membutuhkan hasil pertanian, atau mendapatkan koleksi e-book yang baik yang membahas masalah pertanian maupun topik lainnya.

"Dengan informasi yang disediakan di Pustaka Tani, para petani dapat memperkaya dirinya karena mereka dapat mempelajari praktek pertanian yang berhasil di daerah lain, mereka pun dapat berbagi pengalaman dengan petani lainnya. Mereka juga akan mendapatkan informasi yang cepat mengenai regulasi-regulasi yang dibuat oleh pemerintah, periode musim tanam, juga akses terhadap pasar yang lebih luas. Mereka bahkan dapat berhubungan langsung dengan Departemen Pertanian melalui fasilitas email," ujar Chen.

Peluncuran program yang dilakukan hari ini (22/9) di Aula kantor pusat IPB-Bogor, bertepatan dengan acara Dies Natalis IPB yang ke-42. Pada peluncuran tersebut juga dilakukan penandatanganan Campus Agreement antara PT Microsoft Indonesia dengan Insitut Pertanian Bogor (IPB). IPB tercatat sebagai sebuah lembaga yang sudah melegalkan seluruh penggunaan peranti lunaknya yang berbasis teknologi Microsoft melalui program Campus Agreement.

Pada kesempatan tersebut, dalam pidato Menteri Pertanian Dr. Ir. Anton Apriyantono MS, yang diwakili oleh Dr. Ahmad Suryana, Kepala Badan Litbang Pertanian, mengatakan bahwa masalah dan tantangan pembangunan pertanian yang dihadapi saat ini semakin kompleks. Masyarakat dituntut untuk menerapkan prinsip-prinsip manajemen moderen agar mampu mengantisipasi segala bentuk perubahan yang berlangsung secara cepat. Segala bentuk perubahan-perubahan yang terjadi dalam pembangunan pertanian membutuhkan perencanaan dan perumusan kebijaksanaan yang matang. Perencanaan dan perumusan kebijaksanaan pembangunan pertanian harus didukung dengan data/informasi yang handal. Dan, pada masa sekarang, data/informasi yang handal tersebut hanya dapat diperoleh melalui penerapan dan pemanfaatan teknologi informasi.

"Karena itu, Sistem Informasi Pertanian, yang juga terus dikembangkan oleh Departemen Pertanian harus mampu mendukung pemerintah, petani/swasta dan pelaku usahatani lainnya dalam pembangunan pertanian secara menyeluruh. Dukungan ini berbentuk penyediaan informasi yang akurat, tepat waktu, dan spesifik pada permasalahan, serta penyediaan infrastruktur (termasuk CTLC yang sedang dikembangkan Microsoft dan IPB ini) yang diharapkan akan mampu meningkatkan komunikasi data/informasi pertanian antar berbagai pelaku usahatani," ujarnya.

Sementara itu, Rektor IPB Prof.Dr.Ir.H.Ahmad Ansori Mattjiek, MSc mengatakan dalam penataan organisasi, fungsi penelitian dan pengabdian masyarakat diefektifkan pengelolaannya dalam satu unit Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) untuk mengkoordinir 13 pusat-pusat penelitian dan pemberdayaan masyarakat di lingkungan IPB. Selain tugas tersebut LPPM juga mengemban tugas untuk mengkoordinir terobosan penelitian dan pemberdayaan masyarakat yang bersifat multi-disiplin dan multi instansi. Salah satu terobosan yang pada hari ini kita saksikan adalah peningkatan kualitas pada tujuh desa ataupun daerah binaan LPPM-IPB dengan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi berupa komputer dan jarngan Internet melalui kerjasama dengan PT. Microsoft Indonesia.

Tentang Program Unlimited Potential (UP)

Program Unlimited Potential (UP) merupakan inisiatif global Microsoft yang diluncurkan pada tahun 2003, dimana Microsoft bermitra bersama dengan lembaga swadaya masyarakat untuk memberikan sarana belajar jangka panjang dengan mendirikan Community Training and Learning Center (CTLC). Program ini sejalan dengan inisiatif Departemen Komunikasi dan Informasi untuk memberikan akses kepada setengah dari total populasi penduduk di Indonesia sampai pada tahun 2015 melalui pendirian Community Access Point (CAP).

Selama hampir 3 (tiga) tahun berjalan, Microsoft telah bermitra dengan 7 (tujuh) lembaga koordinator untuk mendirikan 28 CTLC yang tersebar sebagai berikut:

1. Aceh (4 CTLC)
2. Padang Pariaman (1 CTLC)
3. Jambi (1 CTLC)
4. Medan (2 CTLC)
5. Parapat (1 CTLC)
6. Jakarta (3 CTLC)
7. Bandung (1 CTLC)
8. Sukabumi (1 CTLC)
9. Bojonegoro (1 CTLC)
10. Surabaya (1 CTLC)
11. Pontianak (1 CTLC)
12. Bali (2 CTLC)
13. Mataram (1 CTLC)
14. Makassar (1 CTLC)
15. 6 (enam) CTLC di Jawa Barat dan 1 (satu) CTLC di Kalimantan di bawah naungan LPPM-IPB

Sampai saat ini telah tercatat peserta yang mengikuti training komputer sekitar 7.000 orang. Selain itu telah tercatat 25.000 orang yang sudah memanfaatkan fasilitas di CTLC. ( pl )

Sumber; http://jkt1.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/10/tgl/13/time/103010/idnews/450152/idkanal/349

Unlimited Potential

Program Unlimited Potential (UP) merupakan sebuah inisiatif global Microsoft yang diimplementasikan diseluruh dunia sejak tahun 2003. Dalam program ini, Microsoft bekerja sama dengan berbagai lembaga non-profit untuk menyediakan sarana pelatihan dan pembelajaran jangka panjang bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan, melalui Community Training and Learning Centre (CTLC). Masyarakat dapat mengakses informasi, dan memperdalam pengetahuan dibidang Teknologi Informasi di CTLC.

Unlimited PotentialTujuan utama program Unlimited Potential adalah untuk mengurangi kesenjangan digital bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan. Hal ini sejalan dengan target pemerintah melalui kesepakatan yang ditandatangani pada World Summit on Information Society (WSIS) di Geneva untuk memberikan akses kepada 50% penduduk Indonesia pada tahun 2015.

Program UP di Indonesia pertama kali diluncurkan di Indonesia tanggal 23 Oktober 2003. Hingga saat ini, Microsoft Indonesia telah bekerjasama dengan 7 lembaga non-profit yaitu : Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Forum Daerah, Yayasan Mitra Mandiri, Yayasan Mitra Netra, dan LPPM Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Yayasan Mitra Kesehatan dan Kemanusiaan. Ketujuh lembaga tersebut berperan sebagai koordinator untuk mengelola 33 CTLC di seluruh Indonesia.

Melalui pelatihan yang didapat di CTLC, diharapkan masyarakat dapat membuka wawasan mereka seluas-luasnya melalui akses informasi dan meningkatkan keahlian mereka di bidang Teknologi Informasi. Keahlian ini kemudian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup, memperbaiki keadaan sosial dan ekonomi juga memperkuat daya saing masyarakat.

sumber: http://www.microsoft.com/indonesia/ca/up/

Pada Awalnya...


CTLC Tepi Mahakam didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat petani di Indonesia. Adalah drh. H. Sumarsongko, alumnus Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor yang juga pengurus himpunan alumni IPB wilayah Kaltim yang merasa prihatin dengan kondisi petani peternak di wilayah binaannya yang meliputi Kalimantan Timur dan sebagian Kalimantan Selatan. Dengan wilayah yang cukup luas, sementara infrastruktur transportasi belum memadai menyebabkan bidang pertanian mengalami kendala yang cukup serius. Selain kendala pemasaran, informasi dan pendampingan budidaya juga merupakan masalah lain.
Dengan niatan untuk memajukan pola berfikir petani itulah maka dibentuk CTLC di bawah LPPM IPB yang kebetulan sedang bermitra kerja dengan PT. Microsoft dalam penyebaran teknologi informasi kepada komunitas petani.
Sebagai langkah awal, pada bulan Agustus beberapa calon trainer dari 7 CTLC di bawah binaan IPB dikumpulkan di Asean Foundation Jakarta untuk diberikan pelatihan seputar manajemen dan operasional CTLC. Selain di Asean Foundation pelatihan juga dilakukan di PT Microsoft Indonesia Jakarta. Dari Samarinda dikirim 2 orang.
Hasil pelatihan di Jakarta kemudian disampaikan kepada masyarakat perunggasan Kaltim yang dihadiri oleh drh. H. Sumarsongko, H. Purwoko dan drh. H. Subagyo. Dari pertemuan tersebut ditindaklanjuti dengan mempersiapkan tempat dan fasilitas yang diperlukan. Akhirnya dengan bantuan 5 unit komputer, CTLC Tepi Mahakam resmi mulai beroperasi pada bulan Oktober 2005. Lokasi yang dipakai adalah Toko Sapronak (Sarana Produksi Ternak) yang berada persis di tepi Sungai Mahakam. Pemilihan ini memang dirasa tepat karena selain ruangan tersedia, Sapronak juga merupakan tempat para petani peternak sering berkunjung. Selain untuk berbelanja kebutuhan peternakan, mereka juga bisa menemui tenaga ahli untuk konsultasi. Dengan demikian keberadaan CTLC semakin menunjang komunikasi yang dibangun di lingkungan komunitas petani peternak.

Sungai Mahakam


Sungai Mahakam merupakan sungai terpanjang kedua di pulau Kalimantan (Borneo). Mengalir dari hulu di sekitar perbatasan Malaysia sepanjang lebih kurang 900 km menuju selat Makassar. Daerah hilir membentuk delta khas seperti kipas yang dinamakan delta Mahakam. Sungai Mahakam menjadi simbol dan ciri khas dari Propinsi Kalimantan Timur. Selain itu, sungai Mahakam juga menjadi urat nadi transportasi sejak jaman dulu sampai sekarang.
Mengingat peran pentingnya sebagai sarana transportasi, maka sampai saat ini masih bisa dijumpai beberapa tempat penting dalam sejarah, misalnya kerajaan Kutai Kartanegara dan situs-situs lainnya yang berada di sepanjang daerah aliran sungai ini. Sungai Mahakam juga membelah kota Samarinda sebagai ibukota propinsi Kalimantan Timur menjadi Samarinda Utara dan Samarinda Seberang. Dua wilayah ini dihubungkan dengan dua jembatan besar yang dinamakan jembatan Mahkota I dan II.
Kapal-kapal bermotor adalah sarana transportasi yang paling murah untuk menyusuri sungai Mahakam. Penumpang bisa duduk lesehan di lantai bawah atau ruangan kamar mirip barak di lantai atas. Kamar kecil untuk MCK merupakan ruangan simpel berukuran 1X0,5m yang lantainya diberi lubangi sehingga langsung berhubungan dengan sungai. Beberapa kapal juga menyediakan makan dan minum dengan menu sederhana, sedangkan jika tidak menyediakan biasanya akan bersandar di beberapa tempat tertentu sepanjang sungai. Kapal berangkat dari Terminal Sungai Kunjang tiap pagi ke arah hulu melayani rute Melak (sekitar 24 jam), Kota Bangun (10 jam), Long Iram (30 jam), Muara Muntai (14 jam) dan Long Bagun (40 jam).