Selain untuk pengasapan (fumigasi) kandang ayam yang dicampur dengan kalium permanganat, formalin digunakan untuk sterilisasi telur tetas dan mesin tetas. Ketentuan itu katanya, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya dan sangat tidak aman dikonsumsi. Asohi juga berharap agar tata niaga formalin diatur lebih ketat.
"Formalin itu sebenarnya bermanfaat, tapi karena banyak disalahgunakan akhirnya berbahaya. Itu sebabnya kami menganjurkan agar formalin tidak digunakan lagi," sebutnya.
Efek samping yang ditimbulkan formalin antara lain iritasi mata dan pernafasan. Pada manusia juga bisa menyebabkan pembengkakan, gatal, hingga sesak nafas dan kanker paru-paru.
Sebagai pengganti formalin untuk disinfektan, pihak Asohi menyebutkan masih banyak disinfektan lainnya. Menurutnya, ada sekitar 80-an disinfektan lainnya yang bisa dimanfaatkan dan tidak berbahaya seperti formalin, karena ramah lingkungan. Sayangnya ia tidak menyebutkan pengganti formalin tersebut karena terkait dengan merek dagang. "Yang jelas banyak penggantinya. Kebetulan saja formalin banyak digunakan karena memang harganya lebih murah," sebut didampingi Ketua Asohi Kaltim drh Sumarsongko. Dikatakan, selain sebelumnya digunakan di dunia peternakan, formalin banyak digunakan industri kayu, tekstil, kertas, karpet, dan farmasi. (eff)
Sumber: http://www.kaltimpost.web.id/berita/index.asp?Berita=Ekonomi&id=145060
No comments:
Post a Comment