“Teach a child how to think, not what to think.”
— Sidney Sugarman
"Good teacher teach, great teacher inspire"
Dua kutipan di atas (maaf jika sumber dan kutipannya kurang tepat) menjadi inspirasi bagi CTLC Tepi Mahakam untuk berkarya. Kami menerjemahkannya menjadi 'ajari siswa bagaimana cara berfikir, bukan apa yang harus difikir" serta "guru yang baik mengajar, guru yang hebat memberi inspirasi".
Selama keberadaan CTLC Tepi Mahakam, banyak hal yang bisa dijadikan bahan pembelajaran. Mengajari petani menggunakan komputer adalah hal yang masih aneh bagi masyarakat umum di Indonesia. Apa yang mau diajarkan? Buat apa petani belajar komputer? Apa hubungannya komputer dengan lahan?
Tentu saja CTLC tidak bisa memberikan target yang terlalu muluk. Bagi kami, mereka-para petani- sudah mau bertandang ke ruang kelas sudah merupakan suatu anugrah. Betapa mereka masih mempunyai semangat untuk belajar di sela kesibukan pekerjaan dan berbagai keterbatasan.
Karena itulah CTLC Tepi Mahakam memberikan materi pelatihan berdasarkan tingkat pemahaman dan kebutuhan mereka. Sebagai materi utama tentu saja kurikulum Microsoft UP kemudian ditambahkan materi-materi yang kompeten dengan kebutuhan. Selain untuk memberikan pemahaman kepada sahabat kami (petani) tentang kegunaan komputer bagi mereka, tentu saja kami juga ingin mengenalkan bahwa komputer juga bisa memberikan mereka hiburan.
Rombongan pertama kelas kami adalah angota Masyarakat Perunggasan Kaltim. Sebagai forum yang ikut membidani kelahiran CTLC, maka kewajiban pengelola untuk menularkan pengalaman pelatihan Microsoft UP di Jakarta kepada mereka. Selain itu juga curah gagasan tentang pengelolaan CTLC ke depan juga menjadi bahan diskusi yang cukup hangat. Kendala kelas ini adalah kesibukan para peserta yang tidak bisa dikompromikan dengan waktu kursus. Masih perlu perbaikan untuk kelas mereka di waktu mendatang.
Kelas ke dua kami adalah para pengrajin tahu dan tempe dari daerah Lempake. Untuk kelas ini kami memberikan berbagai materi tambahan seputar perkembangan harga kedele, bagaimana mencari informasi melalui internet, mencari peluang pasar, cara memproduksi pangan yang baik, dan desain gambar sederhana.
Dengan semakin banyaknya peserta, kami mulai kewalahan mengatur jadwal pelatihan. Untuk menyiasatinya, kami melakukan pelatihan untuk pelatih yang diikuti beberapa mahasiwa Teknologi Hasil Pertanian dari Universitas Mulawarman. Dari pelatihan ini beberapa peserta bisa disaring untuk ikut menjadi pelatih bagi kelas-kelas yang sudah menunggu.
Tercatat beberapa kelas setelah itu diikuti oleh beragam peserta. Ada kelas dari remaja masjid, peternak ayam, petugas penyuluh lapangan, pensiunan, karyawan swasta maupun peserta mandiri. Banyak warna dan suasana yang muncul dalam setiap kelas. Namun satu hal yang jelas membuat kami senang, kami mendapat banyak saudara baru.
Selama keberadaan CTLC Tepi Mahakam, banyak hal yang bisa dijadikan bahan pembelajaran. Mengajari petani menggunakan komputer adalah hal yang masih aneh bagi masyarakat umum di Indonesia. Apa yang mau diajarkan? Buat apa petani belajar komputer? Apa hubungannya komputer dengan lahan?
Tentu saja CTLC tidak bisa memberikan target yang terlalu muluk. Bagi kami, mereka-para petani- sudah mau bertandang ke ruang kelas sudah merupakan suatu anugrah. Betapa mereka masih mempunyai semangat untuk belajar di sela kesibukan pekerjaan dan berbagai keterbatasan.
Karena itulah CTLC Tepi Mahakam memberikan materi pelatihan berdasarkan tingkat pemahaman dan kebutuhan mereka. Sebagai materi utama tentu saja kurikulum Microsoft UP kemudian ditambahkan materi-materi yang kompeten dengan kebutuhan. Selain untuk memberikan pemahaman kepada sahabat kami (petani) tentang kegunaan komputer bagi mereka, tentu saja kami juga ingin mengenalkan bahwa komputer juga bisa memberikan mereka hiburan.
Rombongan pertama kelas kami adalah angota Masyarakat Perunggasan Kaltim. Sebagai forum yang ikut membidani kelahiran CTLC, maka kewajiban pengelola untuk menularkan pengalaman pelatihan Microsoft UP di Jakarta kepada mereka. Selain itu juga curah gagasan tentang pengelolaan CTLC ke depan juga menjadi bahan diskusi yang cukup hangat. Kendala kelas ini adalah kesibukan para peserta yang tidak bisa dikompromikan dengan waktu kursus. Masih perlu perbaikan untuk kelas mereka di waktu mendatang.
Kelas ke dua kami adalah para pengrajin tahu dan tempe dari daerah Lempake. Untuk kelas ini kami memberikan berbagai materi tambahan seputar perkembangan harga kedele, bagaimana mencari informasi melalui internet, mencari peluang pasar, cara memproduksi pangan yang baik, dan desain gambar sederhana.
Dengan semakin banyaknya peserta, kami mulai kewalahan mengatur jadwal pelatihan. Untuk menyiasatinya, kami melakukan pelatihan untuk pelatih yang diikuti beberapa mahasiwa Teknologi Hasil Pertanian dari Universitas Mulawarman. Dari pelatihan ini beberapa peserta bisa disaring untuk ikut menjadi pelatih bagi kelas-kelas yang sudah menunggu.
Tercatat beberapa kelas setelah itu diikuti oleh beragam peserta. Ada kelas dari remaja masjid, peternak ayam, petugas penyuluh lapangan, pensiunan, karyawan swasta maupun peserta mandiri. Banyak warna dan suasana yang muncul dalam setiap kelas. Namun satu hal yang jelas membuat kami senang, kami mendapat banyak saudara baru.
No comments:
Post a Comment